Negosiasi Dagang RI-AS: Tarik Ulur Tarif Resiprokal dan Pembelian Energi Rp244 Triliun

Kesepakatan masih berproses di Washington, dengan fokus membeli energi, produk pertanian, dan 50 pesawat Boeing untuk Garuda Indonesia

Avatar photo

- Penulis

Rabu, 10 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut negosiasi dagang terkait tarif resiprokal Indonesia AS masih berlanjut. (Instagram.com@ airlanggahartarto_official)

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut negosiasi dagang terkait tarif resiprokal Indonesia AS masih berlanjut. (Instagram.com@ airlanggahartarto_official)

PAGI itu udara Jakarta masih lembap setelah hujan dini hari, namun suasana di Kompleks Istana Kepresidenan justru terasa lebih tegang.

Karena di balik pintu rapat, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto baru saja memberi kabar tentang kelanjutan perundingan dagang Indonesia dengan Amerika Serikat.

Kabar itu bukan sekadar rutinitas diplomatik, melainkan cerita tentang posisi tawar dua negara yang kerap menguji kesabaran.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Indonesia berusaha mempertahankan kepentingannya, sementara Amerika dengan lantang menuntut konsesi.

Tarik Ulur Tarif dan Keseimbangan Neraca Perdagangan

Airlangga menyebut tim negosiasi Indonesia masih berada di Washington, melanjutkan pembahasan yang belum menemukan kata akhir.

“Tentu masih ada implementing agreement yang sedang dalam pembahasan, jadi tim sedang berada di Washington,” ujar Airlangga, Selasa, 9 September 2025.

Kesepakatan yang sedang dibicarakan bukan sekadar soal angka, melainkan juga tentang menjaga keseimbangan neraca dagang sebagaimana diinginkan pemerintah Amerika.

Untuk itu, Indonesia harus menyiapkan landasan hukum di dalam negeri, termasuk peraturan presiden yang akan menjadi payung kebijakan baru.

Empat Syarat Amerika dan Konsekuensi Bagi Indonesia

Amerika Serikat datang dengan empat syarat yang menuntut komitmen besar dari Indonesia.

Pertama, Indonesia tidak boleh menerapkan tarif apa pun untuk produk ekspor asal Amerika.

Kedua, Indonesia diwajibkan membeli energi dari Amerika dengan nilai US$15 miliar atau sekitar Rp244 triliun, menggunakan kurs Rp16.271 per dolar.

Syarat ketiga adalah impor produk pertanian dari Negeri Paman Sam senilai US$4,5 miliar atau sekitar Rp73 triliun.

Terakhir, Indonesia harus membeli 50 unit pesawat Boeing, mayoritas tipe 777, yang sebagian besar direncanakan masuk ke armada Garuda Indonesia.

Menurut pengamat perdagangan internasional dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal, syarat itu menunjukkan Amerika sedang memanfaatkan kekuatan dagangnya untuk menekan negara mitra.

“Posisi Indonesia tidak mudah, sebab di satu sisi ingin menjaga ekspor tetap tumbuh, tapi di sisi lain harus mengikuti maunya Amerika,” kata Fithra.

Nilai Perdagangan yang Berubah dan Komoditas Strategis

Airlangga mengakui bahwa nilai perdagangan kedua negara terus bergerak, tidak semua produk memiliki harga stabil, terutama komoditas yang tidak diproduksi di Amerika.

Sebelumnya, kedua negara sudah menyepakati tarif sebesar 19 persen untuk produk Indonesia yang berlaku sejak 7 Agustus 2025.

Namun, tarif tersebut belum mencakup semua komoditas strategis, dan justru menjadi bahan negosiasi yang paling alot.

Indonesia, kata Airlangga, berupaya menjaga agar tidak seluruh produk terkena beban tinggi, sehingga ekspor utama tetap memiliki ruang bersaing.

Risiko Politik Ekonomi dan Arah Kebijakan Pemerintah

Negosiasi ini tidak hanya bicara perdagangan, tetapi juga menyangkut risiko politik ekonomi yang bisa memengaruhi arah kebijakan pemerintah Indonesia ke depan.

Jika semua syarat dipenuhi, beban belanja negara dan korporasi bisa membengkak, sementara manfaat jangka panjang masih belum pasti.

Di sisi lain, kegagalan mencapai kesepakatan bisa membuka pintu perang tarif, yang merugikan eksportir dan memperlebar defisit perdagangan.

Pengamat hubungan internasional dari CSIS, Yose Rizal Damuri, menilai strategi pemerintah harus seimbang antara kompromi dan proteksi.

“Negosiasi ini tidak boleh hanya dilihat dari sisi dagang, tetapi juga posisi geopolitik Indonesia yang semakin penting di kawasan,” ujar Yose.

Jalan Panjang Menuju Kesepakatan Resiprokal

Cerita tentang tarif resiprokal Indonesia dan Amerika belum usai, dan kemungkinan besar masih akan melewati jalan panjang penuh tarik-ulur.

Bagi Indonesia, ini adalah ujian tentang bagaimana memainkan diplomasi ekonomi, menjaga kepentingan rakyat, sekaligus tetap berdiri sejajar di meja perundingan internasional.

Seperti hujan dini hari yang meresap pelan ke tanah, hasil negosiasi ini mungkin tidak langsung terlihat, namun dampaknya bisa bertahun-tahun membentuk arah ekonomi bangsa.****

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infokumkm.com dan Pangannews.com 

Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Delapannews.com dan Apakabarindonesia.com.

Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Harianmalang.com dan Haisumatera.com

Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.

Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com

Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.

Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.

Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.

Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center

Berita Terkait

Sinergi PR Newswire dan PSPI Hadirkan Distribusi Pers Rilis Berbasis 175+ Media di Indonesia
Rp50 Triliun Dana Patriot Bond Siap Biayai Proyek Sampah Jadi Listrik Indonesia
Blokir Anggaran Mulai Rontok, Realisasi Belanja K/L Rp686 Triliun
Ketidakpastian The Fed, CSA Index September 2025 Turun ke 65,4
Shell Super Hadir Lagi, Konsumen Masih Menunggu Kepastian V-Power
Rahasia Sukses Undang Jurnalis Ekonomi untuk Liputan Acara Perusahaan
Era Baru Komunikasi Digital Perusahaan Dengan Galeri Foto Pers
Menyongsong Era Baru: QRIS Indonesia Bisa Dipakai di Tiongkok

Berita Terkait

Selasa, 18 November 2025 - 14:32 WIB

Sinergi PR Newswire dan PSPI Hadirkan Distribusi Pers Rilis Berbasis 175+ Media di Indonesia

Selasa, 14 Oktober 2025 - 10:59 WIB

Rp50 Triliun Dana Patriot Bond Siap Biayai Proyek Sampah Jadi Listrik Indonesia

Rabu, 24 September 2025 - 08:13 WIB

Blokir Anggaran Mulai Rontok, Realisasi Belanja K/L Rp686 Triliun

Sabtu, 13 September 2025 - 00:20 WIB

Ketidakpastian The Fed, CSA Index September 2025 Turun ke 65,4

Rabu, 10 September 2025 - 14:41 WIB

Negosiasi Dagang RI-AS: Tarik Ulur Tarif Resiprokal dan Pembelian Energi Rp244 Triliun

Berita Terbaru

logo

Pers Rilis

PARA PEMIMPIN TEKNOLOGI GLOBAL LUNCURKAN TRUSTED TECH ALLIANCE

Minggu, 15 Feb 2026 - 03:15 WIB