BEI-PROPAMI Sepakati Kerja Sama Edukasi Pasar Modal

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 26 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertambahan investor belum otomatis membuat pasar modal lebih dalam. Persoalannya bergeser: ke mana modal mengalir, perusahaan seperti apa yang mampu mengaksesnya, dan seberapa jauh dana publik itu berujung pada kegiatan produktif.

Pertanyaan itu mengemuka dalam Seminar Nasional Pelaku Pasar Modal Indonesia yang digelar Perkumpulan Profesi Pasar Modal Indonesia (PROPAMI) di Ballroom Suagi, The Papadanyan Hotel, Bandung, Sabtu, 26 September 2026.

Seminar bertema “Masa Depan Pasar Modal Indonesia: Sinergi Kebijakan, Industri, dan Profesi untuk Pertumbuhan Berkelanjutan” tersebut mempertemukan pelaku profesi pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), legislator, lembaga penjaminan, dan akademisi.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Forum itu juga dirangkaikan dengan Rapat Umum Anggota Tahunan (RUAT) PROPAMI 2026, yang dihadiri perwakilan Dewan Pimpinan Wilayah PROPAMI dari berbagai daerah.

Bagi industri pasar modal, pertemuan itu menyentuh persoalan yang lebih besar daripada agenda organisasi: bagaimana membuat pasar tidak hanya bertambah besar, tetapi juga semakin berguna sebagai sumber pembiayaan ekonomi.

Investor Bertambah, Literasi Menjadi Soal Berikutnya

Ketua Umum PROPAMI NS. Aji Martono menekankan peran profesi pasar modal dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat dan investor di daerah.

Pesannya berangkat dari persoalan yang sederhana. Investor membawa uang ke pasar. Namun, keputusan investasi membawa risiko. Semakin luas masyarakat masuk ke pasar modal, semakin besar pula kebutuhan terhadap informasi dan pemahaman yang memadai.

Literasi karena itu bukan sekadar kegiatan edukasi.

Ia menentukan kualitas keputusan investor.

Dalam seminar tersebut, BEI dan PROPAMI menandatangani nota kesepahaman (MoU). Kerja sama itu mencakup kegiatan edukasi, peningkatan literasi keuangan berkelanjutan, serta sinergi antara Kantor Perwakilan BEI dan DPW PROPAMI di berbagai wilayah Indonesia.

Langkah itu memperluas peran organisasi profesi dari pusat aktivitas pasar ke daerah. Tantangannya adalah memastikan edukasi tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi sampai pada pemahaman mengenai risiko, produk, dan mekanisme investasi.

Sebab pasar modal bukan hanya tempat orang membeli saham.

Ia adalah tempat modal publik dipertaruhkan.

Perusahaan Mencari Modal, Investor Mencari Alasan

Di sisi perusahaan, persoalannya berbeda.

Perusahaan membutuhkan dana untuk ekspansi. Pasar modal menawarkan salah satu sumber pembiayaan tersebut. Tetapi dana publik tidak datang tanpa syarat.

Saidu Solihin, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, membahas penilaian perusahaan, termasuk perusahaan yang mempersiapkan diri melakukan Initial Public Offering (IPO).

Masuk bursa berarti membuka perusahaan kepada publik. Ada kewajiban keterbukaan informasi, tuntutan tata kelola, serta kebutuhan untuk menjelaskan kinerja dan penggunaan modal kepada pemegang saham.

Di sinilah IPO menjadi lebih dari sekadar aksi menghimpun dana.

Perusahaan menawarkan prospek. Investor mempertaruhkan modal.

Di antara keduanya ada informasi.

Jika informasi tidak memadai, risiko sulit dihitung. Jika tata kelola lemah, kepercayaan mudah terganggu.

Karena itu, kualitas perusahaan yang masuk pasar menjadi sama pentingnya dengan jumlah perusahaan yang berhasil masuk bursa.

Tidak Semua Perusahaan Membutuhkan Bursa

Pasar modal bukan jawaban untuk semua kebutuhan pembiayaan.

Hal itu terlihat dari pembahasan Bobby Cahyadi, Direktur Utama Jamkrida Jawa Barat, mengenai penjaminan bagi pelaku usaha, termasuk UMKM.

Bagi perusahaan besar, pasar modal dapat menjadi pilihan untuk menghimpun dana. Bagi banyak UMKM, persoalannya jauh lebih dasar: mendapatkan pembiayaan dengan persyaratan yang dapat mereka penuhi.

Keterbatasan agunan dan profil risiko menjadi bagian dari persoalan tersebut. Lembaga penjaminan berada di salah satu titik untuk mengurangi hambatan itu.

Dari sini terlihat bahwa pembiayaan usaha tidak bekerja melalui satu pintu.

Perbankan memiliki fungsi sendiri. Lembaga penjaminan memiliki fungsi lain. Pasar modal menyediakan instrumen yang berbeda. Teknologi keuangan menambah jalur baru.

Yang dibutuhkan perusahaan bukan satu sumber dana untuk semua keadaan, melainkan pilihan pembiayaan yang sesuai dengan tahap pertumbuhan dan profil risikonya.

Batas Industri Keuangan Makin Tipis

Dr. Erman Sumirat, dari kalangan akademisi, membahas perkembangan industri keuangan yang semakin terintegrasi.

Perubahan teknologi ikut menggeser batas antarindustri. Produk keuangan berkembang. Saluran distribusi berubah. Investor memperoleh lebih banyak pilihan. Perusahaan memiliki lebih banyak alternatif pendanaan.

Perubahan itu membuat pasar modal tidak bisa dibaca hanya dari aktivitas jual-beli saham.

Di belakang transaksi terdapat proses yang lebih panjang: dana masyarakat dihimpun, dialokasikan, kemudian digunakan perusahaan untuk membiayai kegiatan ekonomi.

Karena itu, persoalan akhirnya kembali pada satu hal: kualitas alokasi modal.

Modal yang berhenti pada transaksi belum tentu menghasilkan produktivitas. Modal yang masuk ke perusahaan dan digunakan untuk ekspansi, investasi, atau pengembangan usaha memiliki dampak ekonomi yang berbeda.

Perbedaan itulah yang membuat kedalaman pasar lebih penting daripada sekadar ukurannya.

Aturan Menentukan Kepercayaan

Dimensi kebijakan dibahas oleh H. Fathi, Anggota Komisi XI DPR RI, sedangkan Edi Broto Suwarno, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK, menyampaikan keynote speech.

Bagi pasar modal, regulasi menentukan banyak hal: informasi yang harus dibuka perusahaan, perilaku pelaku industri, mekanisme pengawasan, hingga perlindungan terhadap investor.

Aturan juga menghadapi persoalan klasik.

Industri bergerak cepat. Teknologi melahirkan produk dan model bisnis baru. Regulator harus memastikan perkembangan itu tidak menciptakan ruang yang sulit diawasi.

Di sisi lain, aturan yang terlalu lambat mengikuti perubahan dapat membuat inovasi tertinggal.

Karena itu, ukuran regulasi bukan banyaknya aturan yang dibuat. Persoalannya adalah apakah aturan tersebut mampu menjaga kepercayaan tanpa menutup ruang perkembangan industri.

Di pasar modal, kepercayaan adalah aset yang tidak tercatat dalam neraca, tetapi menentukan apakah modal akan terus mengalir.

Pasar yang Kompleks Membutuhkan Profesional yang Kompeten

Pertumbuhan industri membawa kebutuhan lain: tenaga profesional.

PROPAMI menempatkan peningkatan kapasitas anggota sebagai bagian dari misi organisasi. Tujuannya membentuk profesional yang terlatih dan kompeten serta memperkuat kerja sama dengan pemerintah dan pemangku kepentingan.

Peran Lembaga Sertifikasi Profesi Pasar Modal (LSPPM) juga terkait dengan kebutuhan tersebut.

Pasar modal mempertemukan perusahaan, investor, regulator dan berbagai profesi. Kesalahan satu pihak dapat berpengaruh terhadap pihak lain.

Karena itu, kompetensi bukan sekadar urusan sertifikasi.

Ia berkaitan langsung dengan kualitas layanan, kepatuhan dan kepercayaan terhadap pasar.

Semakin rumit instrumen keuangan, semakin mahal pula biaya jika kompetensi tertinggal.

Pertumbuhan Harus Terlihat di Ekonomi Riil

RUAT PROPAMI 2026 menjadi ruang organisasi untuk mengevaluasi program, membahas agenda tahunan dan menetapkan arah kerja berikutnya. Kehadiran perwakilan DPW dari berbagai daerah memperlihatkan upaya memperluas jaringan profesi di luar pusat aktivitas pasar keuangan.

Tetapi ukuran keberhasilan pasar modal tidak berhenti pada seminar, jumlah kegiatan, atau bertambahnya anggota organisasi profesi.

Pertanyaan yang lebih penting berada di luar pasar itu sendiri.

Apakah perusahaan lebih mudah memperoleh modal?

Apakah investor lebih memahami risiko?

Apakah UMKM memiliki lebih banyak pilihan pembiayaan?

Apakah informasi perusahaan semakin terbuka?

Apakah modal yang dihimpun benar-benar masuk ke kegiatan produktif?

Jawaban atas pertanyaan itu yang akan menentukan apakah pertumbuhan pasar modal memiliki dampak ekonomi yang lebih luas.

Di Bandung, PROPAMI mempertemukan regulator, industri, profesi, lembaga penjaminan dan akademisi. Mereka datang dari posisi yang berbeda, tetapi berada dalam rantai yang sama: menghimpun, mengelola, mengawasi dan menyalurkan modal.

Pada akhirnya, ukuran pasar modal bukan hanya berapa banyak uang yang berpindah tangan.

Ukurannya adalah apa yang terjadi setelah uang itu berpindah tangan.

Jika modal berubah menjadi investasi, investasi menjadi ekspansi usaha, dan ekspansi menghasilkan produktivitas, pasar modal tidak sekadar tumbuh.

Ia bekerja sebagai bagian dari mesin ekonomi.

Berita Terkait

Kecepatan Tayang Jadi Solusi Distribusi Press Release di Platform Media Sosial, Siarannews.com Gandeng NMN
Demi Jurnalisme yang Berkualitas, Hallo.id Menghadirkan Platform ‘Traktir Kopi’ untuk Apresiasi dari Pembaca
Demi Jurnalisme yang Berkualitas, Hallo.id Menghadirkan Platform ‘Traktir Kopi’ untuk Apresiasi dari Pembaca
Demi Jurnalisme yang Berkualitas, Hallo.id Menghadirkan Platform ‘Traktir Kopi’ untuk Apresiasi dari Pembaca
Demi Jurnalisme yang Berkualitas, Hallo.id Menghadirkan Platform ‘Traktir Kopi’ untuk Apresiasi dari Pembaca
Demi Jurnalisme yang Berkualitas, Hallo.id Menghadirkan Platform ‘Traktir Kopi’ untuk Apresiasi dari Pembaca
SapuLangit Media Center Luncurkan 5 Media Online Baru, Fokus Berita Kesehatan, Pariwisata dan Lingkungan Hidup
Menjaga Kepercayaan di Tengah Digitalisasi, PROPAMI Masuki Usia 16 Tahun
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 21:34 WIB

BEI-PROPAMI Sepakati Kerja Sama Edukasi Pasar Modal

Senin, 14 September 2026 - 09:21 WIB

Kecepatan Tayang Jadi Solusi Distribusi Press Release di Platform Media Sosial, Siarannews.com Gandeng NMN

Kamis, 10 September 2026 - 16:18 WIB

Demi Jurnalisme yang Berkualitas, Hallo.id Menghadirkan Platform ‘Traktir Kopi’ untuk Apresiasi dari Pembaca

Kamis, 10 September 2026 - 15:38 WIB

Demi Jurnalisme yang Berkualitas, Hallo.id Menghadirkan Platform ‘Traktir Kopi’ untuk Apresiasi dari Pembaca

Kamis, 10 September 2026 - 15:06 WIB

Demi Jurnalisme yang Berkualitas, Hallo.id Menghadirkan Platform ‘Traktir Kopi’ untuk Apresiasi dari Pembaca

Berita Terbaru

Ekonomi

BEI-PROPAMI Sepakati Kerja Sama Edukasi Pasar Modal

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:34 WIB

Pers Rilis

Rianlon Ekspansi ke Malaysia, Perkuat Pasar Global

Jumat, 25 Sep 2026 - 02:32 WIB